Home   >   Ftv   >   Preman Insyaf Saat Dzikir
Preman Insyaf Saat Dzikir

Synopsis

Ustad Badrun sebagai imam baru saja menyelesaikan doanya seusai shalat berjamaah. Para jamaah mulai bangkit untuk meninggalkan mushalla. Ustad Badrun masih melanjutkan dengan berzikir. Begitu juga dengan Jarot yang duduk di shaf persis di belakang imam. Jarot dengan khusyuk memetik tasbih sambil menunduk. Tapi tiba-tiba kepala Jarot merunduk lebih dalam lagi, lalu tersungkur. Posisi kepalanya seperti bersujud, tapi kaki bersila. Beberapa orang yang belum keluar menoleh lalu mendekat karena aneh melihat posisinya sujudnya. Ustad Badrun juga menoleh dan terkejut. Perlahan dia coba memanggil, tak ada sahutan. Dia pun beruasaha mengangkat bagu Jarot hingga kepalanya terangkat. Jarot diam saja. Saat diperiksa nafasnya ternyata Jarot sudah meninggal. Semua langsung mengucap Innalillah wainna ilaihi rojiun.

Rosmiati, istri Jarot yang dikabarkan berita itu seakan tak percaya dengan kematian suaminya yang mebitu mendadak. Demikian juga dengan Maya, putrinya. Begitu jenazah Jarot digotong masuk ke rumah, tangis pun pecah. Para pelayat yang berdatangan bukan hanya terkejut karena kematian yang mendadak, melainkan juga karena cara kematiannya itu. Beberapa kali terlontar ucapan setengah tidak percaya, “Pak Jarot meninggal saat berzikir?!”


Flashback

Jarot melangkah gagah memasuki kampungnya. Empat tahun dipenjara karena tindak kriminal membuat matanya jalang melihat ke mana-mana. Beberapa orang yang memapasinya menyapa takut-takut. Di satu warung dia berhenti, mengambil minuman dan langsung menenggaknya. Dia juga minta rokok, mengambil kue, dan keluar begitu saja sambil mengunyah. Pemilik warung dengan takut-takut coba memanggil untuk meminta bayaran. Jarot menghardik dan si pemilik ketakutan. Dari mulut ke mulut kepulangan Jarot bikin geger, sampai ada warga yang langsung memasukkan sepeda motornya demi keamanan.

Rosmiati, Maya dan Yano (istri dan dua anak Jarot) juga menyambut ragu, antara senang sekaligus was-was. Perhatian Jarot langsung tercurah pada Yano yang sudah tumbuh ABG dan di matanya  memperlihatkan tanda-tanda orang kuat. “Nggak salah firasat Papa, kalau kamu memang bakal jadi orang besar, bakal jadi penerus Papa. Dari masih dalam kandungan kamu sudah banyak bawa rejeki. Bahkan barengan kamu lahir Papa menang judi, sampai Papa bisa mengembalikan semua harta kita yang hilang. Kamu memang pantas jadi kebanggaan Papa,” celotehnya. Yano malah terlihat tidak suka dan saling pandang tegang dengan Maya.  Rosmiati mencairkan keadaan dengan mengatakan bahwa semua anak memang dilahirkan untuk jadi generasi penerus dan tentunya harus jadi lebih baik dari orang tuanya.  Kalimat Rosmiati rupanya diartikan lain oleh Jarot, hingga dia terbahak dan sang istri makin was-was. Masih belum berubahkah suaminya?
Apa yang dikuatirkan Rosmiati terlihat esok harinya. Jarot ternyata memang belum berubah. Dia marah ketika melihat makanan di meja tak sesuai seleranya, walaupun Rosmiati sudah menjelaskan kalau dia sedang kehabisan uang karena baru menyelesaikan urusan sekolah anak-anak. Kemarahan Jarot meninggi saat dia menginginkan tokok pun tak ada uang. Korbannya adalah Yano. Dia minta Yano mencarikan tokok bagaimana pun caranya. Yano bingung dan Jarot mulai menggertak nyalinya. “Kenapa bingung? Bilang sama warung-warung itu, sudah lama mereka nggak ngasih jatah papa. Apa mau warungnya didatangi para pemalak?!” teriaknya. Yano makin ketakutan. Rosmiati berusaha membela dengan menyediakan dirinya yang akan pergi berhutang, tapi Jarot mencegah. Alasannya dia harus mendidik puyta mahkotanya dari sekarang. Diam-diam Maya berisarat kepada Yano supaya mengiyakan dan pergi, juga berisarat kepada ibunya supaya tenang. Diam-diam juga Maya menyusul Yano dan memberikan uang simpanannya untuk dibelikan rokok.  Setelah mendapatkan rokok Jarot langsung masuk kamar dan tidur.
Sore hari datang tamu yang janji mau pesan makanan pada Rosmiati dan memberikan DP. Rosmiati sangat bersyukur dan berjanji akan memenuhi pesanan cateringnya tepat waktu. Tapi saat dia mau menyimpan uang itu ke dalam lemari, Jarot terbangun. Melihat istrinya menggenggam dompet, tanpa basa-basi dia menyambarnya dan mengutas isinya.  Rosmiati kalang kabut dan berusaha mempertahankan dengan segala penjelasan, tapi Jarot tidak peduli dan langsung membawanya pergi. Rosmiati tidak berdaya.  Tak ada cara lain, dia harus mencari pinjaman  demi memenuhi tanggung jawab.  Tapi rupanya orang yang biasa membantunya pun tak berani lagi mempercayakan uangnya karena keberadaan Jarot. Rosmiati akhirnya harus pastah.

Esoknya saat pemesan datang untuk memastikan masakannya akan siap sore nanti Rosmiati  hanya tertunduk. Hati-hati dia minta si pemesan untuk melunasi dulu ordernya supaya dia bisa segera belanja karena uang mukanya sudah terpakai. Si pemesan malah marah, menuduh Rosmiati mulai berani coba-coba menipu karena ada suaminya.  Melihat ibunya dimakai-maki Yano yang baru pulang sekolah nekat mau mencari Jarot. Dia juga tak peduli larangan ibu dan kakaknya.

Sampai malam baru Yano berhasil menemukan sang ayah di tempat bilyard. Serta-merta Yano menggebrak meja dan mengacak-acak permainan, sambil berceloteh meminta pertanggung jawaban saang ayah atas uang ibunya. Semua terkejut marah. Semula Jarot juga menunjukkan kegeramannya,  tapi kemudian terbahak.  Dia rangkul Yano, lalu mengangkat-angkat tangan Yano seperti membanggakan seorang pemenang.

Trailer

KRMJ2NelFUw
  • DIRECTOR
    Eddy Prasetya
  • WRITER
    Team MNC Pictures
  • PRODUCER
    Edward Candra
ADS